Senin, 19 Desember 2016

Antara Taqwa dan Cinta

#Yaaapp...??!!
Ini dia cerpenku di awal tahun 2012 silam. Semoga menginspirasi :)

***

“Nak, jangan pacaran dulu. Urus sekolahmu sama ibadahmu dulu. Nanti kalau sudah berpenghasilan tetap, kamu baru Ibu ijinkan.”
Kata-kata itulah yang selalu keluar dari mulut ibuku. Ya, aku mengerti apa maksudnya. Dan aku pun punya tekad untuk tidak berpacaran. Tapi, kadang aku berpikir. Kenapa aku tak boleh pacaran? Kan yang penting tidak melebihi batas. Hmm...
Keluargaku termasuk keluarga yang berislam kuat. Ayahku seorang penasehat di masjid. Sekali ketahuan aku pacaran, pasti aku dihukum. Bahkan, orang tuaku tak segan-segan mengeluarkanku dari sekolah.
Aku pernah dituduh berpacaran dengan teman dekatku. Dia bernama Erik Maulana. Kalau boleh jujur, aku memang menyukainya sejak kelas delapan SMP. Tetapi, aku sembunyikan rasa itu. Aku satu kelas dengannya. Dia itu anak yang super jahil dan tukang menghina. Apalagi kalau nilaiku kecil. Uh, hinaannya super nusuk.
Dalam urusan prestasi, aku dan dia selalu saling berkejaran. Dia terkenal dengan kelihaiannya dalam berbahasa Inggris. Bahkan, dia menjadi juara 1 Lomba Islam Speech Contest 2011 tingkat SMP se-Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap, dan Kebumen. Sedangkan aku, aku hanya terkenal sebagai siswa yang menduduki peringkat dua di antara enam kelas.
Hal yang paling aneh darinya adalah dia begitu pelit dalam hal uang. Jajan pun hanya satu kali dalam satu bulan! Samapi akhirnya temanku ada yang mengucapkan begini, “Ya ampun, Rik. Kalau lo kaya gini terus, kayanya nggak ada yang mau jadi pacar lo deh.” Ups. Temanku yang ini memang agak kurang ajar.
***
Tak terasa satu tahun aku bercaci maki ria dengannya. Karena kenaikan kelas, pembagian kelas pun diadakan. Aku dan dia harus berpisah. Dia menjadi warga kelas sembilan F, sedangkan aku sebagai anggota suku kelas sembilan A.
Enam bulan telah aku lewati tanpa ejeknya. Rindu memang. Tapi, ya sudah lah. Dan sungguh tiada terkira. Saat tanggal 14 Februari 2011 atau lebih tepatnya Hari Valentine, dia mengajakku pulang bersama. Kami saling bersenda gurau. Walau kadang seperti musuh, tapi hanya dengan dia aku nyaman. Anaknya juga seru dan lucu. Aku pun merasa, inilah kado terindah untuk ulang tahunku yang jatuh pada tanggal 12 Februari. Pada hari itu pula, dia meminta nomor handphoneku.
***
Hampir setiap hari aku pulang bersamanya. Itu juga karena kami satu arah. Dan aku tak menyangka. Karena setiap hari dekat, aku merasakan rasa cinta yang terukir indah.
Semua teman-teman kami curiga akan hubungan kami. Bahkan, beredar berita bahwa kami telah menjaid sepasang kekasih sejak tanggal 24 Februari! Dan pernyataan itu keluar dari mulut Erik sendiri! Ya Allah. Sungguh, aku tak pernah membuat perjanjoian seperti itu dengannya. Terbentuk rasa was-wasku jika keluargaku tahu atas apa yang telah terjadi denganku.
Aku tanyakan hal ini baik-baik pada Erik. Dia mengatakan bahwa dia hanya ingin menghibur temannya yang bertanya. Atau dengan kata lain dia bermaksud bercanda. Dia pun meminta maaf padaku. Dan berhari-hari setelah itu, dia menyatakan cintanya padaku. Tepatnya sekitar awal bulan Maret.
Dia untaikan syair andalannya. Ya, dia adalah salah satu penyair hebat di SMPku. Kemampuannya dalam membuat puisi sungguh luar biasa. “Bukalah tirai hatimu untukku.” Itulah sajak yang paling aku ingat darinya dan selalu terkenang dalam hati ini. Dan syukurlah. Aku sudah menyiapkan jawaban jauh-jauh hari sebelumnya. Ya, aku memilih menolaknya. Aku mengerti. Dia tampan, cerdas, kreatif, berjiwa pemimpin, dan paham agama. Tetapi, aku sudah berjanji pada orang tuaku dan aku sendiri bahwa aku tidak akan berpacaran. Aku sudah bertekad. Aku akan langsung menikah. Insya Allah, jika Allah mengijinkan dan melancarkan. Aku tidak ingin melanggar peraturan Islam. Terlihat raut kecewa di wajah Erik. Tetapi, ia mengerti alasanku. Dan dia pun tetap melakukan komunikasi denganku seperti biasanya.
***
Hari ujian kian mendekat. Pengawasan dari keluargaku pun sangat ketat. Terlebih kakak perempuanku yang paling tegas sekaligus cerewet. Sampai pada suatu saat, aku lupa mengambil handphone yang sedang aku charger di ruang tengah. Dan, oh Tuhan. Kakakku membaca sebuah pesan yang baru masuk. Pesan itu dari Erik. Aku tidak diijinkan membaca pesan itu. Tapi kata kakakku isinya kira-kira begini.
Iyan . . .  udah sembuh blm skitnya?? Eyik do’akan smoga cpt smbuh yah . . .
Gubrak! Aku kaget setengah mati. Aku ingat, ketika pulang sekolah aku mengatakan padanya jika aku sedang tidak enak badan. Tubuhku gemetar. Aku yakin, semua oang di rumahku akan memarahiku habis-habisan. Dan dugaanku pun benar. Aku terkurung di antara segrombolan keluargaku. Aku menangis di kamar sejadi-jadinya. Orang tuaku menasehatiku dengan nada kasar dan keras dari balik pintu kamarku.
“Kau itu anak macam apa! Kami sudah beri kau makan! Beri kau sandang! Beri kau papan! Bapak sudah bilang padamu. Jangan pacaran dulu!” teriak Bapak.
“Aku tidak pacaran, Pak. Dia itu hanya temanku. Hanya teman!” balasku dengan isak tangis yang luar biasa kerasnya.
“Kalau tahu tingkah lakumu begini. Lebih baik kau keluar dari sekolahmu. Untuk apa kau sekolah. Hanya membuang uang saja! Kau pikir mencari uang itu gampang! Orang tuamu ini hanya pedagang bakso, Nak! Pedagang bakso! Dan penghasilan kami sungguh tak cukup untuk menghidupi lima anak lain selain kamu! Tapi dengan sekuat tenaga kami terus berusaha. Terik panas dan guyuran hujan kami yerjang. Tapi apa yang kau lakukan? Kau enak-enakkan melakukan dosa. Kau pikir itu tidak dosa? Itu dosa, Nak! Dosa!” ucap Ibu padaku.
Ibu menangis terisak dengan linangan air mata. Aku menangis dan terus menangis. mataku sangat merah dan bengkak. Tangisanku mirip tangisan anak jalanan yang tidak makan selama tujuh hati lamanya.
“Aku keluar dari sekolah? Ok, Bu. Lagi pula, untuk apa aku sekolah. Tak ada gunanya! Ibu juga tak butuh aku. Tak butuh prestasiku. Buang saja piala-piala di almari itu! Buang saja, Bu! Lagi pula, Ibu tak pernah mengucap kata selamat padaku. Ibu tak pernah menghargaiku. Ibu tak pernah menyayangiku. Ibu selalu pilih-pilih anak!” kataku pada Ibu. Aku menangis meronta-ronta.
Ibuku mendobrak pintu kamarku. Ia telah menyiapkan tangan kananya untuk menamparku. Dengan gesit, aku berpindah menghindar.
“Apa-apaan sih, Bu!” ucapku.
“Dasar anak biadab! Seharusnya dulu Ibu tidak merawatmu. Seharusnya Ibu membunuhmu!” ujar Ibu dengan nada yang semakin meninggi. Tetesan air mata Ibu terus mengalir.
Astagfirullah. Apa yang tadi aku dengar? Aku sungguh tak kuasa menahan piluku.
“Oh, Ibu ingin aku mati. Ok, Bu. Lebih baik aku bunuh diri saja!” teriakku.
“Sudahlah, Bu. Kita pergi saja. Untuk apa mengurus anak tak tahu diri ini. Kita lihat saja besok. Apakah dia benar-benar akan bunuh diri,” gumam Ayah.
Ayah menyeret Ibu. Tapi ibu tidak mau. Inu terus berdiri. Ayah melangkah pergi ke kamarnya. Aku lihat linangan air mata Ibu. Banyak, sangat banyak.
“Nak, jika kau ingin tahu. Ibu sangat menyayangimu. Ibu tidak membedak-bedakkan anak-anak Ibu. Mungkin, Ibu jarang bercakap-cakap denganmu. Tapi Ibu melakukan semua ini karena Ibu takut mengganggumu. Ibu yakin, pulang sekolah kamu pasti capek. Ibu tak ingin mengganggu istirahatmu,” ucap Ibu lirih.
Aku menangis dan terus menangis. aku ingat ketika ibu tak pernah menghiraukanku saat pulang sekolah. Menjawab salam pun mungkin tidak.
“Kami semua menyayangimu, Nak. Kami tak ingin kamu jatuh di lubang yang salah. Kami tidak ingin menjerumuskanmu ke arah zina. Maka dari itu, kami melarangmu,” lanjut Ibu.
Aku tertegun. Ya Allah, apa yang telah aku lakukan? Apa yang telah aku ucapkan? Kenapa aku malah terjadi perang antara aku dan orang tuaku? Aku telah melakukan dosa besar sepanjang sejarah hidupku. Dan sejak malam itu, aku mulai sadar bahwa masih ada banyak orang yang mencintaiku selain seorang laki-laki yang bukan muhrimku, yaitu keluargaku.
***
Karena konflik antara aku, Erik, dan keluargaku masih mengguncang pikiranku. Aku tidak bisa berkonsentrasi belajar untuk Ujian Nasional. Dan akhirnya, nilai Bahasa Indonesiaku menjadi korbannya. Nila Ujian Nasionalku 7,6. Tapi, syukurlah. Hasil rata-rata antara nilai Ujian Nasional dan Ujian Sekolahku 8,2. Posisiku dari peringkat dua paralel pun turun menjadi peringkat sembilan paralel. Dan tak pernah aku kira, Erik mengalami peningkatan yang luar biasa! Dia menduduki peringkat enam paralel. Itu, tandanya masalahnya denganku tidak terlalu mempengaruhi psikologinya.
Sebelum Ujian Nasional dilaksanakan, aku sudah menceritakan masalah SMS yang membuat konflik itu. Dia meminta maaf dan dia juga berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Dia juga bilang, dia akan bersikap biasa di depanku. Seakan-akan tidak ada rasa apapun terhadapku.
***
Erik yang kabarnya akan melanjutkan ke SMA N 1 Purwokerto, ternyata melakukan pembatalan. Dia terdampar di sekolahan yang sama denganku. Dan yang lebih heboh lagi, dia satu kelas denganku. Tetapi, di kelas kami seperti orang yang tak saling kenal. Aku seperti orang lain di matanya. Sungguh sakit rasanya diabaikan seperti itu. Padahal aku berharap dia tetap mau berteman denganku. Tapi, mungkin inilah takdir yang sudah Allah suratkan. Lama-lama, aku mulai melupakannya. Banyak temanku yang mengatakan bahwa kami memiliki sifat yang sama, ciri khas yang sama dan tingkah laku yang sama. Kata mereka, kami sama-sama anak yang berpercaya diri tinggi, anak pemikir masa depan, anak penyuka sastra, anak yang krtis, anak yang kreatif, anak yang cerdas, anak yang ambisius, anak yang mudah kaget, anak yang mudah geli, anak yang paham agama, dll. Oh, ya. Setelah IQ kami di tes, ternyata kami memiliki skor IQ yang sama.
Terserah apa pun komentar yang dilontarkan orang-orang di sekitarku. Kini, aku dan dia hanya sebatas teman. Dan aku bahagia jika ia bersama dengan yang lain walau kadang ada rasa cemburu yang berkobar.
***
Untuk melupakannya, aku lebih memilih bercengkrama dengan Allah. Aku sering pergi ke masjid. Bahkan, kadang aku tidur di sana. Selain itu, atas permintaan ta’mir masjid. Aku menjadi guru ngaji untuk anak-anak yang berumur lima tahun. Aku juga mencoba profesi baru selain menjadi pelajar SMA, yaitu penulis dan penyair.
Subhanallah. Erik pun juga sama. Dia juga menjadi guru ngaji di masjid dekat rumahnya. Dia juga sedang mencoba menjadi seorang penulis dan penyair. Puisi-puisinya sangat terkenal di kalangan kakak kelas, terlebih perempuan. Jika aku, puisi-puisiku hanya terkenal di kalangan teman-teman satu kelasku saja. Tapi banyak juga kakak kelasku yang tahu puisi-puisiku. Namun kebanyakan anak laki-laki. Kami juga sama-sama sedang belajar membuat manga dan anime.
Urusan jodoh hanya di tangan Tuhan. Tak sepantasnya kita sebagaimana makhluknya mendahului takdirnya. Biarlah hidup ini mengalir seperti air yang mengalir. Dan tetap menunggulah. Karena sesuatu apa pun, pasti akan indah pada waktunya.
***

Biodata Penulis
Dianca Hyani adalah nama pena Dian Cahyani. Terlahir di Banyumas pada tanggal 12 Februari 1996. Merupakan seorang penulis pemula yang baru memasuki dunia tulis menulis dua bulan terakhir ini. Berhobi menulis, membuat kerajinan, membaca dan bercita-cita untuk menjadi penulis, CEO, dan ilmuwan. Prestasi dalam dunia tulis menulis pun baru sedikit, yakni baru dinobatkan sebagai pemenang berbakat Lomba Puisi Ibu 2011 di Hubsche Maedchen Writers Grup yang ber-deadline tanggal 10 Desember 2011. Penulis dapat dihubungi lewat e-mail: dianca.agency@gmail.com, ataupun melalui facebook dengan nama akun Dianca Hyani II.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar