Minggu, 25 Desember 2016

Asmaraku Menatap Islam

#flash true story
#masuk dalam antologi Memory in Love
#karyaku :D

***

Sebuah kenangan istimewa ini telah tersemburat lama di alam pikirku. Aku mafhum betul, inilah bentuk kegalauan masa cintaku semenjak satu tahun yang lalu.
Terhablurlah masa rumit lingkup hidupku oleh seorang laki-laki penyadar sekaligus penghancurku. Masih terawang aku ingat sekitar Februari 2011 lalu. Berkat kami sering bertemu untuk persiapan lomba, kami menjadi akrab kembali setelah setahun tak saling hirau. Semenjak kelas VIII, aku telah menyukainya. Di celah mataku, ia sosok yang mengagumkan.
Setiap pulang sekolah, kami pulang bersama menyusuri persimpangan jalan. Jalur kami memang berbeda, tetapi dengan ikhlas ia mengantarku sampai depan rumah. Seulas senyum dari bibir manisnya acap kali aku lihat. Dia  lelaki pemurah senyum. Gigi-giginya tertata rapi bak rantai. Hidungnya yang mancung ditambah bulu matanya yang lentik, menambah roman tampannya.
Kami terguncang berita tak sedap, Kawan! Ada yang mengatakan bahwa kami telah punya ikatan.
“Ian, emang bener kalo kamu sama ehm udah jadian?” tanya Sarah penasaran.
“Enggak, kok. Kata siapa?” sontakku.
“Loh, dianya yang bilang sendiri kok.”
Astagfirullah. Aku tak pernah membuat perjanjian seperti itu dengannya. Sumpah, Kawan! Telah aku jelaskan pada mereka bahwa kami tak punya ikatan apapun, tetapi mereka berpikir bahwa aku bermunafik. Aku langsung bergegas menuju ruang kelas untuk mengikuti tambahan pelajaran. Uap amarah ini sudah mengepul di batinku.

“Woy! Lu apa-apaan sih?” tanyaku sontak di tengah jalan.
“Loh. Ada apa, Ian?” Dia menatapku bingung.
Aku menatapnya tajam. Sorot matanya merasuk dalam ceruk amarahku.
***
Hampa rasanya tak ada dia di setiap sudut tatapku. Sudah seminggu  kami menyombongkan diri. Dia mungkin marah karena ocehanku sepekan lalu, tapi aku juga marah karena keputusan sepihaknya.
Ponselku berbunyi. Ternyata ada pesan dari dia. Dan, oh tidak! Dia memintaku menjadi kekasihnya. Aduh, aku bingung. Lama aku berpikir menimbang sana-sini. Aku tak mungkin dengannya. Kami berbeda golongan. Dia termasuk golongan Nahdlatul Ulama, sedangkan aku golongan Lembaga Dakwah Islam Indonesia. Para muslim yang terdaftar dalam golongan kami harus menikah dengan sesama anggota. Ini difatwakan agar Si Anak tak bingung memilih golongan ketika dewasa. Ah, aku tak sedang berbesar rasa bahwa kelak aku menikah dengannya. Aku hanya takut hal tersebut menjalar lama. Lagi pula Islam melarang terbentuknya hubungan yang tak resmi secara hukum agama maupun negara. Dengan terpaksa aku menolaknya.
***
Detik-detik pengumuman sepuluh besar membuat dahiku penuh peluh tegang. Syukurlah, aku menduduki peringkat sembilan paralel walau itu tandanya aku tak dapat menerima beasiswa lagi seperti lima semester kemarin yang berturut-turut itu. Aku telah kecewakan orang tuaku. Aku sangat kecewa pada diriku sendiri, kenapa aku tak belajar maksimal. Ya, aku terbawa rasa galau pelik cintaku.
Air mataku meleleh mengingat kenangan-kenangan indah bersama para sahabat sohibku.  Tapi, kami harus saling ikhlas melepas demi mengejar cita.
Kini, bagiku dia sosok yang tiada tara. Walau dia pernah membuat aku hilang selera belajar dan membuat posisiku menurun sedangkan dia justru langsung melejit di posisi enam paralel yang tak pernah terprediksi sebelumnya., dia tetaplah temanku. Berkat dia-lah keimananku terhadap Allah teruji. Lagipula, cinta itu tidaklah harus memiliki.

Beberapa bulan kemudian....

“Wah! Kita satu sekolah lagi, Ian! Satu kelas pula!” ucapnya tiba-tiba.
Mulutku menganga kaget.
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar