Hmm... Selamat Hari Ibu... :)
Postingan kali ini berceritakan tentang Ibu, Kawan... Semoga menginspirasi... :D
***
LUKISAN CINTA BELLA
Bunyi tembakan peluru terus terdengar riuh. Tak ada tawa gembira dalam medan tempur itu. Tetapi, yang ada hanya suara tangis bercampur bunyi mesin penghunus bangunan.
“Ibu, Bella ingin pulang ke Indonesia. Bella tidak ingin di Palestina terlalu lama,” pinta Bella pada Ibunya.
“Anakku, tenang yah. Kita pasti pulang!” ucap Ibu semangat.
Bella tersenyum bahagia. Binar senyumnya sungguh indah bagai pelangi di akhir hujan.
Di tengah percakapan, tiba-tiba seorang tentara Israel datang menyeret Ibu. Lantas, Bella menarik-narik baju tentara itu. Tentara itu geram. Ia jatuhkan Bella dengan keras. Bella tak menyerah, ia terus mengejar tentara itu dengan langkah terseok-seok.
Tak lama, seorang tentara Palestina memberi peringatan pada tentara Israel itu. Tanpa disangka, tentara Israel itu justru menodongkan pistol pada dahi Ibu. Tentara Palestina itu akhirnya menyerah. Ia lari menjauh.
“Ibu!” teriak Bella.
Tentara itu bersiap-siap menembak dahi Ibu. Tanpa serta merta, Bella berlari secepat angin yang menghembus ke tentara Israel itu. Bella menarik pistol tentara itu dengan sekuat tenaga. Ia tidak peduli jika lawannya lebih besar darinya.
Dan, oh Tuhan. Peluru panas menghujam dahi gadis belia berumur dua belas tahun itu. Tek. Bella terjatuh di medan berlaut darah. Tanpa rasa bersalah, tentara Israel itu tetap mencoba menembak dahi Ibu. Di sisi lain, hati Ibu sangat hancur meratapi tubuh anaknya. Dengan rasa amarah yang kuat, Ibu mendorong tentara Isarel itu dan merebut pistol itu. Tentara itu ketakutan. Ia lari seribu langkah ke arah selatan.
Wajah Ibu telah basah dengan ribuan tetes air mata. Ia tatap wajah Bella dengan lembut. Lalu, Ibu pandang tubuh Bella dari ujung rambut sampai ujung kaki. Ibu mengulurkan tangannya di dekat hidung Bella.
“Alhamdulillah. Napasmu masih ada, Nak. Kau masih hidup!” ucap Ibu.
Tap. Sekilas terlihat secarik kertas terselip di saku kanan celana Bella. Ibu mengambil kertas itu. Perlahan Ibu membaca goresan tinta di kertas itu.
Aku persembahkan untaian kata ini untuk Ibu tercinta.
Ibu, selamat hari Ibu!
SAJAK BEKU
Bila malam datang
Aku ingin memetik bintang untukmu Ibu
Akan aku simpan dalam fatamorganaku
Lalu, akan aku berikan untukmu
Sebagai tanda cintaku padamu
Karena hanya kau yang selalu temaniku
Dalam barisan hari gelapku
Kau yang selalu mengajariku
Untuk tersenyum dalam semu hidupku
Oh Ibu, mungkin
Ini semua hanya ungkapan
Cinta dalam kata dariku
Aku cinta Ibu
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Ibu terus menangis. Ia peluk erat tubuh Bella.
“Puisimu sungguh amat berarti untuk ibu, Nak.”
Ibu bangkit dari duduknya. Ia gotong tubuh Bella dan mencari bantuan.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar