Rabu, 21 Desember 2016

Tiga Besar untuk Si Anak Pedagang Bakso

#cerita nyataku. Semoga menginspirasi :)

***

“Akankah aku masuk tiga besar paralel?” Itulah pertanyaanku saat aku memasuki semester dua di kelas tujuh di SMP. Namun aku selalu menghibur diri dengan mengatakan, “Dian. Kamu pasti bisa!” Saat itulah aku menyatakan aku pasti mampu masuk tiga besar.
Tekad ini terlahir ketika aku membaca selembar kertas yang aku temukan di kolong meja guru di kelasku. Tertera di kertas itu bahwa siapapun yang masuk tiga besar paralel pada setiap semester, dia akan mendapatkan beasiswa, piagam, dan piala tetap. Semenjak itu, tergugahlah keinginanku. Aku kasihan, setiap hari orang tuaku harus berjualan bakso di pasar. Bapakku harus mendorong gerobak yang beratnya sungguh tak terkira. Aku harus mengayuh sepeda tua milik kakakku untuk membawa berbotol-botol air putih ke warung bakso bapakku. Aku ikut bersedih ketika dagangan orang tuaku tak terjual habis. Bahkan, dulu gerobak bakso bapakku pernah terbakar habis oleh lalapan api kompor yang meledak.
Karena keluargakulah aku menjadi banyak belajar mengenai hidup. Aku tersadar bahwa mencari uang itu tak segampang membalikkan telapak tangan. Kita harus jungkir balik melawan arus kehidupan yang tak menentu. Karena itulah, aku berusaha untuk menjadi anak yang berprestasi agar aku dapat membantu orang tuaku yang telah berumur setengah abad itu.
Dari pengalaman pada semester satu, aku banyak belajar. Di semester dua, aku bangun usahaku. Aku belajar rutin, rajin mengerjakan PR, dan beribadah. Ketika bulan puasa, aku sering menginap di masjid untuk melaksanakan salat malam. Aku juga berusaha untuk menghatamkan Al quran walau pada akhirnya aku hanya mampu membaca sampai jus 28 selama satu bulan itu. Aku kerjakan dengan penuh keikhlasan. Aku percaya, Allah-lah yang mengatur segalanya. Aku percaya bahwa semua doa yang dipanjatkan dengan niat tulus dan ikhlas pasti akan dikabulkan oleh-Nya.
Dan ketika itu, detik-detik pengumuman tiga besar paralel semester dua terasa begitu tegang. Badanku panas dan lemas. Tetapi, aku tetap berusaha berdiri di tengah lapangan yang sesak dengan kerumunan siswa.
Dengan suara nyaris seperti ledakan bom, guruku mengatakan, “Peringkat dua di kelas tujuh adalah Dian Cahyani!”
Subhanallah Tuhan! Inikah hadiah-Mu atas semua kerja keras dan doaku? Ternyata aku mampu menjadi siswa nomor dua di antara lebih dari 240 siswa di salah satu SMP terfavorit di Kabupaten Banyumas!
Sungguh, aku tak menyangka. Ternyata aku mampu meringankan beban orang tuaku! Keberhasilan itu adalah titik awal dari semua beasiswa yang aku dapatkan. Biaya pembayaran buku, uang pembangunan ketika kelas sembilan SMP dan biaya sinau wisata ke Jakarta. Itu semua aku bayar dengan uang beasiswaku! Dan, syukurlah. Empat semester kemudian, aku masih bisa mempertahankan posisiku.
Sepuluh piagam, lima piala dan satu plakat sebagai penghargaan untuk sepuluh siswa dengan nilai ujian nasional terbaik adalah hadiah yang aku berikan untuk kedua orang tuaku. Karena aku merasa, tak ada hal lain yang dapat aku berikan pada mereka. Karena aku menganggap diriku adalah parasit untuk mereka.
Aku selalu percaya bahwa jika orang lain mampu, pasti kita juga mampu. Karena semua manusia adalah sama. Kekayaan tak pernah menjamin kesuksesan seseorang. Tetapi, niat baik, doa, dan usahalah yang akan mampu menaklukan impian kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar