Sabtu, 24 Desember 2016

Aku dengan Beribu Semutku

#cerpen motivasi.... :)
Karyaku dalam sebuah antologi...
Semoga bermanfaat..
Selamat membaca....

***


Aku duduki kursi reyot itu. Kursi itu telah terlihat lusuh dan rapuh. Kadang aku  sedikit khawatir jikalau tiba-tiba tubuhku terjungkal dari badan kursi itu. Tapi, hanya kursi ini teman hari-hariku ketika aku lelah berkeliling kampung sambil membawa gerobak mi ayamku. Setiap hari aku  harus menegaskan bunyi mangkok yang aku pukul agar ada warga yang mau membeli mi ayamku. Lelah selalu hinggap dalam dahan ragaku. Tapi itu semua akan sirna ketika aku lihat semata wayangku sambil makan hasil jerih payahku sehari-hari. Istriku yang setiap hari harus mengurus putraku yang masih tiga tahun, membuat aku ingin segera pulang ke Jawa. Ingin aku kenalkan pada ayah dan ibuku. Seorang istri yang saleha juga anakku yang gagah.
“Laila, besok kita pulang ke Jawa yah?” pintaku pada  istriku yang sedang membereskan piring setelah makan. 
Istriku terdiam. Aku melihat rintik air mata di belah pipinya. Ya, aku sadar. Pekerjaan menjual mi ayam keliling seperti aku memang bukanlah pekerjaan pencetak rupiah yang fantastis. Namun, sedikit demi sedikit aku  telah mengumpulkan uang selama satu tahun. Ya, setidaknya dapat untuk mencukupi biaya untuk pulang dan makan.
Esok harinya, kami sekeluarga bersiap-sia untuk pulang ke Jawa. Merantau ke Sumatera selama empat tahun membuatku rindu pada ayah dan ibu. Aku rindu ketika aku dipanggil-panggil dengan panggilan “Bagus” oleh ibu. Aku juga rindu sawah-sawah yang ada di Jawa. Hijau nan asri.
***
“Pak! Kenapa Bapak lakukan itu pada orang tua saya?” teriakku pada Pak Bandi, pegawai swasta kaya di kampungku.
“Ckckck. Kau ini. Hutang bapak ibumu terlalu banyak padaku. Enak saja, mentang-mentang sudah meninggal. Lantas hutang mereka tak dibayar? Hahaha. aku bukan orang bodoh, Kis,” ucapnya tanpa pikir panjang.
Orang tuaku telah meninggal satu bulan lalu, menurut tutur tetanggaku. Aku merasa kalut dan hilang rasa. Belum sekalipun aku pulang selama empat tahun ini. Tapi, setelah pulang. Aku mendengar berita yang memekakkan kedua telinga. Dan baru kali ini juga aku berani membentak orang macam Pak Bandi. Dia mengambil rumah dan semua harta benda orang tuaku dengan alasan sebagai pengganti uang hutang. Hatiku panas. Ingin aku bakar hidup-hidup dia, tapi aku menyadari jika nafsu tak akan selesaikan masalah. Justru masalah itu tak akan kunjung selesai.
Kali ini kami menelusuri malam dengan hati yang kecut. Kami bingung akan tidur dimana. Aku melihat istri dan anakku sudah mulai mengantuk. Aku merasa kasihan pada mereka yang telah terlihat lusuh. Di sela-sela keremangan, aku tatap rumah biru di pinggir jalan, sebelah kiriku. Itu adalah rumah Sarwo, sepupuku. Rasa bingung membesit dalam hati. Aku ingin meminta bantuannya.
Dengan derap langkah kuat, aku beranikan langkahku menuju rumah Sarwo. Aku hilangkan rasa gengsi demi anak dan istriku. Suara jangkrik yang ber “krik-krik” semakin menambah kegelisahan hati. Dengan tertatih-tatih pula, aku gendong istri dan anakku tersayang.
***
“Maaf, Kis. Kalau tempat ini terlalu kecil untuk keluargamu,” kata Sarwo sembari menyalakan rokoknya. “Tak apa, Pak. Saya justru berterima kasih telah dibantu,” kataku sambil salamkan senyum padanya.
Syukur alhamdulillah, permintaanku tadi malam dikabulkan. Aku meminta pada Sarwo untuk diberikan tempat tinggal. Walau kecil, aku sangat berterima kasih padanya. Rumah yang - aku pikir tak layak dipanggil rumah - ini berukuran sekitar 2 x 2 meter. Bahkan aku rasa, ini seperti kandang ayamku dulu di Sumatera.
“Pak, apakah kita bisa betah hidup di tempat sempit seperti ini? Jangankan untuk ruang tamu, untuk tempat tidur saja aku harus melipat kedua kakiku!” teriak Istriku. Laila menunduk menangis, “Ya Rahman. Bicara apa aku ini.”
“Sudahlah, Istriku. Terima apa adanya. Lagi pula, kita tidak mungkin meminta rumah ayah kembali dari Pak Bandi,” ucapku menenangkannya. Aku tahu betul. Laila istri yang baik, tapi kali ini mungkin dia merasakan kepahitan yang sama denganku.
“Kau ingat arti ayat famay ya mal mits qoo la dzarrotin khoiroy yaroh, wa may yamal mits qoo la dzarrotin syarroy yaroh ?” tanyaku lanjut.
“Kalau tak salah, artinya barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat balasannya pula.”
“Nah itu kau hapal. Sayang, Allah telah berfirman seperti itu. Yakinlah, Allah pasti tepat janji. Allah tidak buta, Istriku,” ucapku. Tanpa terasa, mataku yang terisi dengan danau air mata berkelap kelip terpantul sinar petromaks. Laila yang sedari tadi mengamuk, kini terlihat paham akan apa yang aku jelaskan.
***
Aku kelilingi kampung kecil ini, mulai dari daerah yang padat hingga daerah terpencil sekalipun. Tap. Aku berdiri tepat di depan rumah Pak Bandi, pegawai swasta bengis itu. Aku berniat untuk menanyakan apakah ada lowongan kerja di tempat kerjanya. Rasa amarahku padanya aku kubur dalam-dalam. Aku tak ingin membahas masalah sengketa tanah dan rumah itu lagi. Tak aku sangka, kedatanganku disambut kecut oleh pak Bandi.
“Heh, Gembel! Ngapain kau injakkan kakimu di sini? Dasar miskin! Rumah saja sepetak ayam! Tanah minta lagi! Hahahahahaha. Kasihan banget,” ucapnya dengan nada mengejek. Hatiku sakit bagai tertusuk bunga berduri.
“Oiya, Pak. Saya baru ingat kalau saya miskin, sedangkan Bapak orang kaya,” ucapku dengan tetap mengibar senyum. Pak Bandi mengangkat alis mata kirinya.
“Waduh, Pak. Sudah jam setengah dua belas. Saya mau ke masjid dulu; mau salat Jumat. Monggo, Pak. Kita sama-sama ke sana. Mumpung belum ramai,” lanjutku.
“Waduh, waduh. Si gembel ngajakin saya ke masjid? Apa tak salah kau? Hahahaha. Ngapain salat? Mau sujud-sujud ke siapa? Ke tembok?”
“Astagfirullah, istigfar, Pak. Nanti bisa-bisa Allah murka, lho,” ujarku menasehati.
“Heh. Tak usah bergaya ustad kau, Kis!” timpalnya.
“Bukan, Pak. Saya tak pernah berpikir seperti itu. Saya hanya ingin menjalankan perintah Allah untuk membantu meluruskan hal-hal yang salah. Ayo atuh, Pak,” kataku.
“Hahahaha. Monggo. Sekalian makan tuh sajadah apekmu!” Bandi menutup pintu rumahnya sambil tetap meneruskan tawanya.
***
Sungguh lelah rasanya mencari-cari pekerjaan. Dengan sisa semangat yang semakin menipis, aku memutuskan untuk menjual mi ayam seperti dulu. Gerobaknya aku buat sendiri dari kayu-kayu milik Sarwo yang tak terpakai lagi. Aku ukur sana-sini kayu-kayu itu, lalu aku potong-potong dan aku bentuk seperti gerobak mi ayam pada umumya. Satu minggu kemudian, aku mulai ke pasar untuk membeli bahan dasar mi ayam beserta bumbunya. Aku menjual mi ayam dengan berkeliling kampung. Dengan semangat empat lima, aku dorong gerobakku mengelilingi kampung permaiku ini.
Ada rasa sedih yang sering menghinggap. Kadang mi ayamku tak terjual habis. Kadang dibilang tidak enak, tidak higienis, banyak pengawet, dan sebagainya. Ini yang membuatku kadang berputus asa. Aku juga harus menutupi uang makan keluargaku dengan hutang.
Terkadang ada anak-anak jalanan yang meminta uang padaku. Sebenarnya aku kasihan. Tapi mau bagaimana lagi. Aku tak punya uang banyak. Dengan niat tulus ikhlas, aku tawarkan mi ayamku pada mereka. Syukurlah, mereka mau menerimanya. Walau daganganku sepi, tapi setidaknya aku masih bisa beramal, cetus batinku.
***
Selain mengurus anakku, istriku juga menyempatkan untuk mengajar ngaji. Ketika aku berjualan, dia mengajar mengaji anak-anak usia SD bersama Miati yang mengajar ngaji anak-anak SMP. Miati adalah seorang kembang desa yang saleha nan cantik rupa. Ia molek namun tak suka bersolek. Tutur katanya lembut dan sopan. Adalah seorang wanita yang sedang diperebutkan oleh banyak laki-laki di desaku, termasuk Haji Kodir, teman kecilku.
“Bung Kisno. Bagaimana kalau kita kerja sama?” tanya Kodir.
“Kerja sama? Untuk?” tanyaku balik.
“Gini, aku ingin memperistri Miati. Tapi aku butuh bantuanmu dan istrimu untuk membujuknya,” pinta Kodir.
“Ooh, kau menyuruh kami untuk membujuk Miati. Insya Allah, Pak Haji. Saya akan berunding dulu dengan istri saya dan Miati tentunya,” balasku dengan senyum nyengir.
Syukurlah. Setelah aku dan istriku merundingkan masalah ini secara serius dengan Miati, Miati mau!
                  ***
Berita heboh terdengar. Pak Bandi dicekal oleh polisi. Menurut berita, dia terlibat dalam penggelapan uang pembangunan gedung di Cikampek. Semua barang jarahan yang ia punya dikembalikan oleh Pak Polisi ke pemiliknya masing-masing, termasuk aku. Ya Rahman terimakasih, bisikku dalam hati. Aku termenung. Aku tak dapat mempercayai semua ini. Rantai air mata menggores guratan keriput di kedua pelupuk mataku.
Bersamaan dengan itu, Kodir bersama Miati, istri barunya datang ke rumahku.
“Pak, ini ada sedikit rezeki yang dapat kami bagikan pada keluarga Bapak. Ini kunci kios B2 Pasar Peken yang kami beli khusus untuk Bapak. Mohon diterima, Pak,” ucap Kodir.
***
KATA MUTIARA: “Semut dibalas semut. Secuil gula pun iya. Sekecil apapun sebuah perbuatan akan tetap terbalaskan.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar